Arman Ridho MaulanaArman Ridho
  • Home
  • About
  • Skills
  • Experience
  • Projects
  • Certifications
  • Blog
  • Contact
Download CV
Back to Blog
August 22, 2026AIFutureOfWorkCareerProductivity

Firing Me = Firing 1 Person with 10 AI Agents

Headcount-nya satu. Throughput-nya sebelas. Pas kamu memecat satu engineer AI-native, yang mati bukan cuma satu kontrak kerja — tapi satu operasi kecil berisi sepuluh agen.

Beberapa hari lalu gue baca thread di mana seorang manager lagi seneng banget karena "effisiensi" — dia baru pangkas satu posisi, dan menurut hitungannya, perusahaan hemat satu gaji penuh. Angkanya rapi. Satu kursi kosong, satu slip gaji ilang. CFO senyum, board senyum.

Gue cuma bisa geleng-geleng, karena angka itu bohong. Atau lebih tepatnya: angka itu cuma separuh kebenaran yang dipilih-pilih biar enak dilaporkan.

Karena posisi yang dia pangkas itu bukan "satu orang". Itu satu orang yang tiap hari hidup ngatur sepuluh AI agent. Dan pas dia tekan tombol "terminate", yang mati bukan cuma satu kontrak kerja. Yang mati adalah satu mesin kecil berisi sepuluh tangan digital yang selama ini bikin kerjaan satu divisi kelar dalam sehari.

Mari gue jelasin maksud gue, pelan-pelan.

Headcount Bukan Throughput

Ini kebiasaan lama yang gue liat terus di dunia korporat: kita ukur kapasitas dari jumlah kursi, bukan dari jumlah kerjaan yang beres.

Kalau kamu liat org chart, memang cuma ada satu kotak. "Arman — Engineer." Satu baris. Satu gaji. Satu yang bisa di-cross pas ada windfall.

Tapi org chart gak pernah ceritain apa yang sebenernya jalan di balik kotak itu.

Di era sekarang, satu engineer yang AI-native nggak duduk sendirian ngetik kode dari pagi sampai sore. Dia duduk di depan layar, dan di belakang layar itu jalan sepuluh agen: satu lagi riset, satu lagi nulis draft, satu lagi ngetes, satu lagi pantauin log, satu lagi rangkum meeting, satu lagi analisa data, satu lagi deploy, satu lagi audit, satu lagi jadwalkan. Semuanya jalan paralel, di-orchestrate oleh satu orang yang tahu persis kapan harus ikut campur dan kapan harus biarin mereka beres sendiri.

Headcount-nya memang satu. Tapi throughput-nya sebelas.

Dan itu bedanya.

Yang Sebenernya Hilang Pas Kamu "Pangkas Satu"

Pas perusahaan mutusin buat memecat si AI-native engineer, mereka nggak mikir "kita kehilangan satu operasi." Mereka mikir "kita hemat satu gaji."

Padahal yang terjadi di lapangan:

  • Riset pasar yang biasanya kelar dua jam? Sekarang balik ke cara lama: manual, berhari-hari.
  • Draft dokumen, ringkasan, laporan? Balik dikerjain satu-satu oleh manusia yang lelah.
  • Testing otomatis yang jalan tiap malam? Mati, karena agennya ikut dibunuh pas akun dicabut.
  • Monitoring, alert, triage awal? Balik ke inbox yang numpuk dan nobody's watching the dashboard.

Kamu gak memotong satu peran. Kamu membubarkan satu unit kecil yang nggak punya nama di struktur organisasi, tapi nyetak hasil tiap hari.

Gue pernah ngerasain sisi ini dari dua arah. Pas gue masih kerja di tim, gue liat betapa cepetnya kerjaan beres kalau satu orang dikasih izin manfaatin agen dengan bener. Dan pas orang itu keluar — bukan karena dipecat, cuma pindah — birokrasi langsung napas panjang. Hal-hal yang dulu beres semalam, sekarang butuh seminggu. Bukan karena orang yang ganti itu bodoh. Tapi karena yang hilang bukan cuma orangnya. Yang hilang adalah ekosistem agen yang cuma dia yang tahu cara nyalain.

Leverage Itu Gak Kelihatan di Spreadsheet

Masalah utamanya sederhana: manajemen salah harga.

Mereka menghargai talenta dari "berapa gaji dia" dan "berapa lama dia di sini", bukan dari "berapa kali lipat dia melipat kerjaan". Padahal di era AI, leverage itulah mata uang aslinya.

Satu engineer AI-native bukan pekerja dengan produktivitas 1x. Dia manajer dari sepuluh agen dengan produktivitas kolektif yang bisa tembus 10x atau lebih, tergantung dia seberapa jago nge-orchestrate.

Tapi leverage ini gak pernah muncul di KPI kuartalan. Gak ada kolom "agen yang dikelola" di form review. Gak ada baris "throughput vs headcount" di laporan ke board. Makanya pas ada pemotongan, yang dipotong cuma yang kelihatan: kursinya. Yang gak kelihatan — kapasitasnya — dibiarin aja ikut ilang.

Ironisnya, seringkali perusahaan itu habis duit buat beli lisensi AI, langganan tool, training "AI for productivity", tapi pas talenta yang beneran bisa manfaatinnya mau dipecat, gak ada yang nyegat. Padahal lisensi tanpa orang yang tahu cara ngorchestrate itu cuma langganan mahal yang numpuk di invoice.

"Tapi Kan Bisa Diganti Orang Lain"

Argumen paling sering: "Ya kalau dia pergi, kita rekrut orang lain, atau tim lain ambil alih."

Bisa. Tapi ada biaya yang gak ditulis di surat pemecatan.

Pertama, hilangnya konteks. Agen-agen itu bukan robot generik; mereka dilatih, di-tweak, dikasih prompt dan workflow yang spesifik sama orang yang jalanin. Ganti orang, ya mau gak mau dia mulai dari nol bangun sistemnya lagi. Weeks of lost momentum.

Kedua, agen itu dependen sama operatornya. Banyak setup AI agent modern itu stateful — mereka ingat preferensi, ingat history, ingat cara kerja tim. Cabut operator, dan state itu rusak atau gak kesambung. Bukan sekadar "ganti user login", tapi ganti seluruh memori operasional.

Ketiga, yang paling mahal: kecepatan belajar. Orang yang jago AI-native itu terus-menerus nemuin cara baru buat bikin kerjaan makin efisien. Potongan itu bukan cuma kehilangan kapasitas hari ini, tapi kehilangan kurva efisiensi besok.

Jadi iya, bisa diganti. Tapi "bisa diganti" beda sama "gak rugi apa-apa".

Pelajaran Buat Kita yang Kerja di Era Ini

Gue nulis ini bukan buat bikin orang takut dipecat. Gue nulis karena gue pengen kita semua — baik yang di kursi engineer maupun yang di kursi manajer — paham dinamika ini.

Buat yang di kursi engineer: jangan cuma jadi "orang yang pakai AI". Jadi orang yang ngerti arsitektur di baliknya. Catat workflow kamu, dokumentasiin orchestration-nya, bikin supaya kapasitas itu gak ilang gitu aja kalau suatu hari kamu pindah. Leverage kamu baru berharga kalau orang lain bisa liat nilainya, bukan cuma kerasa buat kamu sendiri.

Buat yang di kursi manajer: pas kamu mau pangkas headcount, jangan cuma liat angka di spreadsheet. Tanya dulu: "orang ini nyambungin berapa agen? kalau dia pergi, operasi apa yang ikut mati?" Kadang memecat satu orang malah bikin kamu bayar lebih mahal di tempat lain — lewat lambatnya kerjaan, lewat hilangnya automation, lewat biaya rekrut orang baru yang harus bangun ulang semua dari nol.

Dan buat kita semua: ingat bahwa di era AI, satu orang bisa berarti sebelas. Jangan salah ukur. Jangan salah harga.

Penutup

Gue masih ingat pertama kali gue sadar betapa kecilnya angka "satu" di dunia nyata. Dulu gue kira satu engineer itu satu mesin. Sekarang gue tahu, satu engineer yang tahu cara manfaatin AI itu satu komando yang gerakin pasukan kecil di belakang layar.

Jadi kalau suatu hari ada yang bilang "kita cuma pangkas satu posisi, gak gede-gede amat", gue cuma mau bilang: liat lagi. Cek kolom yang gak ditulis. Cek agen-agen yang ikut mati pas tombolnya diteken.

Karena memecat gw, kadang, sama dengan memecat satu orang yang di-backing sepuluh AI agent. Headcount-nya satu. Tapi yang ilang, jauh lebih dari itu.

Underestimate talenta AI-native at your own risk.

Related Posts

Aug 22, 20264 min read

AI Agent Gak Akan Ngambil Kerjamu — Tapi Engineer yang Ngomandoin Agent Itu Yang Akan

AI·FutureOfWork·Career·Productivity
Read article
A
Arman Ridho

Cybersecurity & IT infrastructure professional building secure, reliable systems in Jakarta.

Navigate
  • Home
  • About
  • Skills
  • Projects
  • Contact
Explore
  • Experience
  • Certifications
  • Blog
  • Download CV
© 2026 Arman Ridho Maulana. All rights reserved.Built with Next.js & Gravity UI